Senin, 25 Mei 2015

MANUSIA (KEBEBASAN SOSIAL/BERMASYARAKAT)



Kita sebagai manusia selain menjadi seorang individu, kita juga menjadi seorang anggota masyarakat. Mengapa dikatakan demikian? Karena, pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat.  Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi di dalam dirinya. Jadi,tidaklah mungkin selamanya manusia hidup sendiri tanpa manusia-manusia disekitarnya.
Kita sebagai manusia yang menjadi anggota masyarakat tentunya harus bersikap toleransi terhadap orang-orang disekitar kita. Janganlah kita bersikap individualis, yang dalam agama sifat individualis itu disebut ‘Thogut’. Orang yang individualis ini ialah orang yang selalu bersikap sewenang-wenang dalam bertindak dan tidak menghargai hak-hak orang yang berada disekitarnya. Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang bermasyarakat tidak boleh berlaku seenaknya. Dari sinilah di dalam suatu kehidupan manusia terdapat sifat pembatasan.
Dari sifat pembatasan ini, dasar hukum lah yang membatasi manusia. Dasar hukum ini dibuat  agar terciptanya suatu ketertiban sosial. Dasar-dasar hukum itu ialah seperti sebuah peraturan-peraturan atau kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat oleh suatu kelompok dan telah disepakati bersama. Contoh dari peraturan-peraturan itu adalah UUD, PERDA,fiqih dan masih banyak lagi. Ketika peraturan-peraturan yang telah dibuat tersebut dan telah disepakati, maka kita diberi kewajiban untuk mentaati peraturan-peraturan itu.  Jadi, dapat dikatakan bahwa kewajiban itu dibangun atas dasar kesepakatan.
Namun, terkadang ada saja ulah-ulah manusia yang tidak menjalankan kewajibannya dalam mentaati peraturan-peraturan yang telah dibuat. Dari kasus inilah diciptakan suatu alat-alat masyarakat untuk dapat mengatur atau menekan orang-orang tersebut seperti: kepolisian, hakim, KPK, dll. Pada dasarnya, peraturan-peraturan itu sendiri diciptakan dengan tujuan agar lingkungan masyarakat menjadi tentram dan damai.
Sama halnya dengan kewajiban-kewajiban/peraturan-peraturan yang dibuat oleh Allah SWT, Allah menciptakan kewajiban-kewajiban manusia sesungguhnya untuk memenuhi kebutuuhan dasar manusia. Contoh dari kewajiban yang Allah berikan itu seperti: shakat 5 waktu, sedekah kepada fakir-miskin, mudah memaafkan seseorang , bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskin. Dari kewajiban-kewajiban itu lah yang membuat kita sebagai manusia menjadi lebih tenang dan bahagia.
Di dalam suatu kehidupan bermasyarakat, terdapat suatu pembatasan. Pembatasan itu sendiri  terdiri dari 3 yaitu:
1.    Fisik
Pembatasan fisik ini dianggap tidak manusiawi. Artinya, untuk menciptakan suatu ketertiban sosial dilakukan dengan cara menggunakan kekerasan fisik. Kekerasan fisik ini pula dikatakan sebagai suatu tindakan yang tidak menghargai kemanusiaan.
2.    Psikis
Pembatasan psikis ini biasanya dilakukan dalam situasi perang dimana orang-orang tidak boleh tidur dalam seminggu. Tentunya bila seseorang  tidak tidur dalam seminggu akan sangat mengangu psikisnya. Pembatasan psikis ini jauh lebih jahat dari pembatasan fisik.
3.    Normatif
Pembatasan ini merupakan pembatasan yang lebih manusiawi. Karena dalam pembatasan normatif ini untuk menciptakan ketertiban hanya dalam bentuk peraturan-peraturan. Dari pembatasan ini terdapatnya suatu dimensi  kesadaran manusia. kesadaran ini menentukan seseorang menjadi suatu orang yang baik atau tidak. Dalam pembatasan ini pula yang disentuh ialah kesadaran manusia terhadap norma. Pembatasan normatif ini harus selalu dihormati selama sesuai dengan keperluan, tujuan, dan ketentuan sosial.
Dari materi ini dapat di simpulkan bahwa kita sebagai manusia sosial yang senantiasa hidup di dalam suatu kelompok manusia yang disebut masyarakat ini harus bersikap toleransi terhadap orang-orang disekitar dan tidak sewenang-wenang dalam melakukan suatu tindakan. Apabila seseorang berlaku sewenang-wenang, tentulah akan terjadi kekacauan. Maka dari itulah, kita yang juga sebagai anggota masyarakat harus mentaati segala peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama agar terciptanya suatu ketertiban ditengah lingkungan kemasyarakatan.


TAUHID



Tauhid adalah suatu ilmu yang menceritakan tentang meng-ESA kan Allah SWT. Karena Tauhid menurut bahasa itu sendiri juga artinya adalah meng-Esakan. Sedangkan menurut syariat adalah meyakini keesaan Allah. Di dalam Al-Qur’an sebenarnya tidak ada yang namanya istilah tauhid. Yang ada yaitu hanya ahad &wahid. Jadi, istilah tauhid itu sendiri bearasal dari kata ahad dan wahid.
 Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya. Karena orang- orang yang menyamai Allah SWT / Menduakan Allah SWT ini di katakan menjadi golongan orang-orang yang musyrik. Karena sesungguhnya orang yang musyrik itu adalah orang-orang yang menkhianati Allah SWT. Sungguhlah, orang-orang yang tergolong sebagai orang musyrik ini tidak akan diampuni oleh Allah SWT dan tentunya pintu nerakalah yang terbuka untuk mereka.
Di dalam Al-Qur’an pun terdapat beberapa ayat yang menyangkut tentang kemusryikan. Seperti misalnya surat An-nisa ayat (48) yang memiliki arti : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” Sudah terlihat jelas dalam ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni hambanya yang musyrik.
Agar kita terhindar dari sifat-sifat orang musyrik maka alangkah baiknya kita bertauhid kepada Allah SWT sang maha pencipta segalanya. Karena sesungguhnya bila kita terhindar dari sifat musyrik, kita pun akan merasa tenang di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Karena kita hanyalah manusia yang suatu saat akan kembali lagi kepada sang pencipta seperti yang terdapat dalam surat Al-baqarah ayat 156 yang menerangkan asal muasal manusia dan manusia harus kembali ke asalnya. Kita adalah manusia yang lemah. Allah SWT lah yang Maha Agung. Seperti juga yang terdapat dalam surat An-nisa ayat 28 yang mempunyai arti : “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu,karena manusia diciptakan bersifat lemah.” Maka, kita sebagai manusia tidak oleh meremehkan kekuasaan Allah SWT.

Janganlah kita percaya pada kekuatan-kekuatan lain yang berasal dari benda-benda seperti batu dan barang-barang antik lainnya serta yang berasal dari kekuatan-kekuatan makhluk Ghaib. Karena itu termasuk kemusryikan dan sungguh Allah membenci orang-orang yang men-duakan-Nya. Yang harus kita lakukan di dunia ini adalah memperbanyak berbuat kebaikan dan bertauhidlah kepada Allah SWT.
Karena dengan kita bertauhid kepada Allah, kita pun tentunya akan menjadi pribadi yang bertaqwa. Dalam arti kata taqwa itu adalah sikap manusia yang bersifat berserah diri: ikhtiar, tawakal kepada Allah SWT. Dan dengan bertaqwa, dalam keadaan apapun manusia tidak bisa mencutikan Allah SWT dari kehidupannya. Selain menjadi pribadi yang bertaqwa, tauhid juga menjadikan orang-orang memiliki keimanan yang utuh dan tentunya menjadi pribadi yang memiliki sikap optimis.

MANUSIA (KEBEBASAN INDIVIDU)



Pada dasarnya, hal yang menonjol dari seorang manusia itu ialah moralnya. Jika seorang manusia memiliki moral yang baik, maka tentunya manusia itu sudah pasti memiliki akhlak yang baik pula. Kita sebagai manusia juga disebut sebagai khalifah di bumi, seperti yag terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 30 yang memiliki arti: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Dari ayat tersebut kita dapat simpulkan bahwa yang dimaksud dengan khalifah ialah manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.
Manusia itu sendiri terdiri dari 2 unsur, yaitu roh (jiwa) dan jasmani.  Di dalam jiwa manusia terdapat akal, hati dan kehendak. Namun, tidak hanya manusia saja yang memiliki jiwa. Seperti yang ada di dalam  Al-qur’an, yaitu 3 hal yang memiliki jiwa diantaranya:
1.    Nafs nabati (tumbuhan)
2.    Nafs hewani (hewan)
3.    Nafs nisani (manusia)

Tumbuhan, hewan, dan manusia sama-sama memiliki jiwa. Namun, yang membedakan manusia dengan yang lainnya ialah karena manusia memiliki akal, hati dan kehendak. Dengan akal, hati dan kehendak yang dimiliki manusia ini jugalah yang mengangkat manusia itu sendiri menjadi khalifah di muka bumi dan menciptakan kepribadiannya. Tidak hanya itu, dengan akal, hati dan kehendak, manusia dapat membangun rencana-rencana hidupnya untuk menuntukan jalan hidupnya serta kebabasan yang dihendakinya.          
Berbicara tentang kebebasan,ada 2 macam yang menyangkut kebebasan individu yaitu kebebasan rohani dan kebebasan jasmani.
Contoh yang paling jelas dalam kebebasan rohani ini ialah ketika kita ingin membeli sesuatu dengan harga Rp 5000 lalu kita membayarnya dengan Rp 10.000 maka seharusnya si penjual mengembalikan uangnya sebesar Rp 5000. Namun, yang terjadi si penjual mengembalikannya sebesar Rp 15.000 karena mungkin si penjual menganggap kita membayarnya dengan  uang Rp 20.000. Disinilah, kita harus menentukan diri kita terhadap kebebasan dalam suatu pilihan. Dimana kita harus mengembalikan uang yang lebih itu  kepada si penjual atau mengambil semua uang itu yang dapat dikatakan pula kita mengambil hak dari orang lain. Dari contoh itulah kita lebih memahami arti dari hakikat kebebasan seorang manusia.  selanjutnya ialah contoh dari kebebasan jasmani.
Contoh dari kebebasan jasmani itu seperti kebebasan kita menggerakkan tangan, badan , dll. Namun, kebebasan jasmani ini bersifat terbatas. Tetapi dengan akal, keterbatasan itu dapat dipenuhi. Misalkan seperti, kita sebagai manusia tentunya sudah dikodratkan tidak bisa terbang layaknya burung. Namun, dengan akal manusia ini dapat menciptakan pesawat sehingga kita bisa merasakan rasanya terbang bahkan melampaui seekor burung.
Disamping itu, terdapat penyataan bahwa kewajiban & tanggungjawab hanya bisa jalan kalau manusia mengandaikan suatu kebebasan. Dari pernyataan itu timbul lah suatu pertanyaan “Apakah Allah memberikan kewajiban dan tanggungjawab hanya semata-mata untuk membebankan manusia?”. sesungguhnya, kewajiban yang Allah berikan itu memiliki tujuan yang akan membahagiakan hidup kita kelak. Kewajiban-kewajiban itu seperti shalat 5 waktu, patuh kepada kedua orang tua, menghormati oranglain, sedekah kepada orang yang tidak mampu,berpuasa dibulan ramadhan dan masih banyak lagi. Dari kewajiban-kewajiban itulah yang akan menghantarkan kita kepada kebahagiaan di kemudian hari.
Dari materi ini kita dapat menggaris besarkan bahwa manusia merupakan makhluk yang diberikan anugrah kebebasan dari Allah SWT karena manusia memiliki kebebasan rohani dan juga jasmani yang dimana kebebasan rohani ini terletak harkat martabat manusia karena dalam rohani kita memiliki akal, hati dan juga kehendak. Dalam kebebasan manusia ini, memiliki arti bahwa kita sebagai manusia bebas memilih pilihan yang tentunya diharapkan rohani dan jasmani kita itu digunakan untuk melaksanakan kebebasan dengan pilihan yang baik untuk diri kita dan tidak merugikan orang lain.

ISLAM, MAKNA & TUJUAN HIDUP



 
   “Bagaimana saya hidup dan bertindak?”.
   Pada dasarnya itu merupakan suatu pertanyaan besar di kala kita hidup di dunia. Dalam pertanyaan itu memiliki arti bahwa kita harus memiliki tujuan untuk menjadi ‘siapa’. Mengapa begitu? Karena kita hanya hidup sekali di dunia ini. Maka dari itu, kita harus menggunakan kesempatan yang Allah SWT berikan itu dengan sebaik-baiknya. Seperti kata pepatah : “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama baik.” Nama baik inilah yang menjadi maksud agar kita menjadi orang yang bisa membuat hidupnya sendiri menjadi bermakna dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang-orang disekitarnya agar dapat dikenang amal kebaikan atau jasa-jasanya.
   Menjadikan hidup menjadi lebih bermakna merupakan tujuan hidup setiap manusia dan tentu tidaklah ada ruginya. Makna itu sendiri memiliki arti ibarat kita merapikan tempat tidur yang berantakan kemudian menjadi rapi maka disitulah ada rasa kepuasan batin yang bermakna. Namun, kadang kala disaat manusia mencoba untuk membuat hidupnya lebih bermakna, ada saja rintangan/cobaan-cobaan yang harus dihadapi. Tetapi tentunya, Allah memiliki maksud mengapa Ia memberikan cobaan itu karena Allah ingin menguji manusia untuk melihat kemampuan manusia itu sendiri. Sesungguhnya, bila manusia itu bisa melewati rintangan/cobaan dalam hidupnya itu, pastinya Allah akan memberikan nikmat yang lebih besar. Sungguh Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-hambanya.
   Namun, terkadang beberapa orang menganggap cobaan-cobaan yang diberikan itu sebagai suatu beban/penderitaan. Mereka-mereka inilah yang tidak pernah mensyukuri setiap perjalanan hidupnya. Maka dari itu, mereka mudah merasa hidupnya sebagai beban/penderitaan. Pada dasarnya,  manusia itu sendiri tergolong menjadi 2 kategori, yaitu:
1.    Manusia yang opstimis
2.    Manusia yang pesimis

Manusia yang optimis itu sendiri menganggap bahwa hidup yang penuh penderitaan masih dianggap berharga dan mereka yang bersikap optimis ini juga masih merasa bahwa kebahagiaan masih bisa dibangun dari puing-puing penderitaan itu sendiri. Ada pula tokoh-tokoh yang bisa dikatakan menjadi orang yang optimis seperti : fir’aun, hitler,musholini. Namun dalam tokoh agama yaitu seperti : Nabi, ulama, pastur,kepala suku, dll.
        
         Tetapi memang tidak selamanya orang yang optimis sudah pasti memiliki iman yang baik. Sikap optimis yang baik itu ialah sikap optimis yang didasarkan dengan keimanan. Contohnya seperti percaya adanya Allah SWT yang akan membantu kita disaat kita merasakan penderitaan/beban dengan terus beribadah kepadanya. Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 186 yang memiliki arti : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”.  Maka dari itu, kita harus bersikap optimis yang dapat memacu kita dalam menghadapi segala cobaan-cobaan.

          Bila tadi sudah membicarakan mengenai manusia yang optimistis, selanjutnya yaitu membahas manusia-manusia yang pesimis. Dikatakan sebagai orang-orang yang pesimis karena saat mereka measakan suatu penderitaan/beban, mereka merasa hidupnya tidak berharga lagi dan merasa bahwa kematian itu lebih baik untuk mengakhiri penderitaannya. Untuk menghindari sikap yang pesimis ini yaitu dengan merubah pemikiran kita akan sebuah penderitaan itu menjadi sebuah kebahagiaan.

         Dari sinilah timbul sebuah pertanyaan, “bagaimana merubah semua penderitaan itu menjadi sesuatu yang bermakna atau dapat membahagiakan?”
Sebenarnya, kunci untuk menggapai kebahagiaan yang abadi itu adalah dengan cara ikhlas, sabar, tawakal dan jujur. Tentunya dengan memiliki sikap-sikap tersebut InsyaAllah hidup kita di dunia maupun di akhirat akan lebih tentram dan bahagia.Allah pun menyajikan “Falyakamal amalm shalihah” yang artinya: “siapa yang ingin berjumpa denganku harus memiliki amalan yang shalihah.

        
         Pada dasarnya hal yang dapat menimbulkan kegalauan dalam menghadapi masalah itu ialah mengabaian ibadah. Jadi, mulailah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah kepadanya niscaya hidup akan merasa lebih tenang dalam menghadapi masalah yang ada. Agar kita pun dapat menggapai tujuan hidup kita yaitu hidup bahagia di dunia dan juga di  akhirat . oleh karenanya, kita harus mengubah penderitaan menjadi sebuah kebahagiaan dengan sifat yang optimistis namun tetap beriman kepada Allah SWT agar hidup menjadi lebih bermakna diiringi dengan amalan shaliha.